Apa itu Architecture?

Arsitektur perangkat lunak adalah struktur atau desain dari sistem perangkat lunak yang mengatur bagaimana komponen-komponen aplikasi berinteraksi dan bekerja sama.

Penjelasan: Arsitektur perangkat lunak adalah struktur atau desain dari sistem perangkat lunak yang mengatur bagaimana komponen-komponen aplikasi berinteraksi dan bekerja sama. Arsitektur ini mencakup keputusan-keputusan besar yang mempengaruhi desain dan pengembangan aplikasi, serta cara aplikasi akan dipelihara dan diperluas di masa depan. Sebagai bagian dari tahap perencanaan pengembangan perangkat lunak, arsitektur perangkat lunak adalah fondasi bagi semua keputusan teknis dan pemrograman yang dibuat selama pengembangan.

Arsitektur perangkat lunak menentukan:

  • Bagaimana komponen perangkat lunak diorganisasi: Pembagian aplikasi ke dalam modul atau layanan terpisah.
  • Bagaimana komponen berinteraksi: Apa jenis komunikasi yang digunakan antara bagian-bagian aplikasi (misalnya, API, database, atau pesan).
  • Bagaimana aplikasi dikelola dan diskalakan: Strategi untuk pengelolaan aplikasi ketika jumlah pengguna atau data berkembang.

Dengan memilih arsitektur yang tepat, pengembang dapat memastikan aplikasi tetap efisien, mudah dipelihara, dan siap untuk skala yang lebih besar.

Contoh Arsitektur Perangkat Lunak:

  • Monolithic Architecture:
    • Monolithic architecture adalah pendekatan di mana seluruh aplikasi dibangun sebagai satu kesatuan besar. Semua komponen dan fitur aplikasi (misalnya, antarmuka pengguna, logika bisnis, dan pengelolaan data) terhubung dalam satu aplikasi tunggal yang dijalankan dalam satu proses.
    • Kelebihan:
      • Pengembangan awal lebih cepat karena hanya perlu menangani satu aplikasi.
      • Lebih mudah untuk dikembangkan dan diterapkan pada aplikasi kecil atau yang memiliki sedikit fitur.
    • Kekurangan:
      • Sulit untuk diskalakan ketika aplikasi tumbuh.
      • Pemeliharaan menjadi lebih kompleks karena perubahan kecil pada satu bagian dapat mempengaruhi bagian lain.
    • Contoh: Sebuah aplikasi e-commerce kecil yang mencakup fungsionalitas pengguna, produk, dan pembayaran dalam satu aplikasi besar.
  • Microservices Architecture:
    • Microservices architecture adalah pendekatan yang membagi aplikasi besar menjadi beberapa layanan kecil yang independen, masing-masing bertanggung jawab untuk satu fungsionalitas atau domain tertentu. Setiap layanan dapat dikembangkan, diuji, dan dikelola secara terpisah.
    • Kelebihan:
      • Lebih mudah untuk diskalakan, karena setiap layanan bisa diskalakan secara independen.
      • Meningkatkan fleksibilitas, karena pengembang dapat menggunakan teknologi yang berbeda untuk setiap layanan.
      • Mempermudah pemeliharaan dan pembaruan, karena pembaruan pada satu layanan tidak mempengaruhi layanan lain.
    • Kekurangan:
      • Lebih kompleks dalam hal manajemen komunikasi antar layanan.
      • Membutuhkan infrastruktur yang lebih besar (misalnya, orkestrasi layanan dan monitoring).
    • Contoh: Platform streaming seperti Netflix, di mana setiap bagian (misalnya, pencarian konten, sistem rekomendasi, pengelolaan pembayaran) dikelola oleh layanan yang terpisah.
  • Event-Driven Architecture:
    • Event-driven architecture (EDA) adalah pendekatan di mana aplikasi merespons event atau kejadian yang terjadi dalam sistem. Ketika suatu peristiwa terjadi (misalnya, pengguna melakukan pembelian), sistem akan merespons dengan menjalankan serangkaian tindakan yang telah ditentukan.
    • Kelebihan:
      • Memungkinkan aplikasi merespons kejadian secara asinkron, sehingga meningkatkan efisiensi.
      • Memudahkan integrasi dengan sistem lain karena event bisa diproses secara terpisah.
    • Kekurangan:
      • Memerlukan infrastruktur tambahan untuk menangani aliran event.
      • Bisa lebih kompleks untuk diimplementasikan dan di-debug karena sifat asinkron dari sistem.
    • Contoh: Aplikasi pembayaran yang merespons transaksi pembayaran atau aplikasi yang mengelola event pengguna (misalnya, pembelian atau pendaftaran).
  • Serverless Architecture:
    • Serverless architecture adalah pendekatan di mana aplikasi dibangun tanpa memerlukan pengelolaan server secara langsung. Pengembang hanya fokus pada menulis fungsi atau kode yang akan dijalankan di cloud, dan penyedia layanan cloud (seperti AWS Lambda) mengelola semua aspek infrastruktur dan skalabilitas.
    • Kelebihan:
      • Pengelolaan infrastruktur lebih sederhana karena penyedia cloud menangani semuanya.
      • Dapat diskalakan secara otomatis tanpa memerlukan intervensi manual.
    • Kekurangan:
      • Ketergantungan pada penyedia layanan cloud.
      • Bisa lebih mahal jika tidak digunakan dengan bijak.
    • Contoh: Aplikasi yang menggunakan AWS Lambda untuk menjalankan fungsi tertentu seperti memproses gambar, mengirim email, atau menjalankan logika aplikasi tanpa perlu pengelolaan server.

Kesimpulan: Arsitektur perangkat lunak sangat penting karena memberikan struktur dan fondasi bagi pengembangan dan pemeliharaan aplikasi. Pemilihan arsitektur yang tepat sangat memengaruhi performa, pemeliharaan, dan skalabilitas aplikasi. Monolithic architecture cocok untuk aplikasi sederhana dan kecil, tetapi semakin besar dan lebih kompleks aplikasi tersebut, semakin masuk akal untuk beralih ke microservices atau serverless architecture, yang dapat menangani volume data atau pengguna yang lebih besar dengan lebih efisien. Setiap jenis arsitektur memiliki kelebihan dan kekurangannya, dan pilihan tergantung pada kebutuhan spesifik aplikasi yang sedang dibangun.